SABTU, 28-3-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Balik Raya

Balik Raya

Citilink flight QG 933 membawa saya meninggalkan Pekanbaru dua hari menjelang Idul Fitri. Saat itu, perjalanan terasa biasa saja, sekadar berpindah kota menuju Batam. Tetapi saya tidak tahu, pulangnya justru akan menjadi sebuah perjalanan yang lebih dalam, lebih pelan, dan lebih bermakna.


Tahun ini kami berhari raya di Batam. Sebuah keputusan sederhana, tetapi sarat makna. Kami tinggal empat bersaudara yang tersisa. Kedua orang tua telah lama berpulang. Tiga saudara lainnya pun telah mendahului. Lebaran, yang dulu selalu berpusat pada rumah orang tua, kini harus mencari bentuk baru - sebuah poros baru.


Dan kami menemukannya di Batam.


Dua adik menetap di sana. Ditambah keluarga besar dari pihak istri, membuat hari raya menjadi riuh rendah. Anak-anak, keponakan, hingga cucu —belasan jumlahnya—memenuhi rumah dengan tawa yang tak pernah benar-benar selesai. Ada kehangatan yang tidak dibuat-buat. Ada kebersamaan yang terasa semakin berharga, justru karena kami tahu, waktu tidak lagi selapang dulu.


Kebetulan rumah di Palm Spring lumayan luas.


Menariknya, di kota yang bukan tanah kelahiran kami ini, langgam Melayu justru terasa lebih hidup. Dalam cara menyapa, dalam canda yang santun, dalam hidangan yang disajikan tanpa tergesa. Seolah kami sedang merawat sesuatu yang nyaris tergerus: rasa, bukan sekadar tradisi.


Hari-hari berlalu tanpa agenda yang ketat. Kami berbincang, mengingat, tertawa, dan sesekali terdiam. Bagi saya yang 35 tahun hidup dalam ritme korporasi, libur Lebaran sepanjang ini adalah kemewahan yang hampir tak pernah saya kenal. Dulu, waktu selalu terasa sempit. Bahkan hari raya pun seperti jeda singkat sebelum kembali berlari.


Kali ini, saya benar-benar tinggal.


Dan ketika saat pulang tiba, saya memilih jalan yang tidak biasa: laut.


Dari Batam, kapal bergerak menuju Tanjung Buton. Laut terbentang hijau di negeri segantang lada Kepulauan Riau. Angin berhembus membawa aroma asin yang khas, sementara kapal membelah permukaan dengan ritme yang tenang, hampir seperti mengajak saya untuk ikut melambat.


Namun perjalanan ini bukan milik saya sendiri.


Arus balik Lebaran membuat kapal penuh sesak. Penumpang berjubel, kursi nyaris tak tersisa, suara bercampur menjadi satu - anak-anak, percakapan orang dewasa, tawa yang pecah di sela kelelahan. Tidak ada ruang privat, tetapi justru di situ terasa denyut kehidupan yang paling jujur: orang-orang yang kembali, masing-masing dengan cerita dan harapannya.


Kapal sempat singgah di Tanjung Balai Karimun. Hiruk pikuk pelabuhan, orang naik turun dengan barang bawaan yang seakan membawa seluruh isi rumah. Lalu berlanjut ke Selatpanjang, sebuah nama yang bagi saya bukan sekadar tempat, tetapi ruang kenangan yang selalu punya cara untuk menyapa, meski hanya sekejap dari kejauhan.


Kedua kota itu hanya persinggahan. Seperti banyak hal dalam hidup: kita datang, berhenti sebentar, lalu melanjutkan perjalanan.


Ketika kapal akhirnya merapat di Tanjung Buton, suasana terasa sederhana. Tidak ada gegap gempita. Hanya pelabuhan yang setia menerima kedatangan dan melepas kepergian.


Di sana, perjalanan darat menanti.


Supir saya telah berangkat sejak subuh dari Pekanbaru. Menempuh jalan panjang dalam gelap, hanya untuk memastikan saya tidak perlu menunggu. Sebuah hal kecil, tetapi diam-diam menyentuh. Ia mengingatkan bahwa setiap perjalanan kita, betapapun personalnya, selalu melibatkan orang lain yang ikut memudahkan langkah kita.


Perjalanan dari Buton kembali ke Pekanbaru terasa sunyi. Tidak ada lagi riuh penumpang, hanya suara mesin mobil dan percakapan ringan yang sesekali muncul lalu tenggelam. Tubuh lelah, tetapi pikiran justru penuh.


Saya menyadari sesuatu yang sederhana, tetapi sering luput: pulang tidak selalu tentang tempat.


Ia tentang siapa yang masih ada.


Ia tentang bagaimana kita merawat kebersamaan itu, setelah mereka yang dulu menjadi pusat telah tiada.


Lebaran tahun ini mengajarkan saya bahwa “rumah” tidak lagi berdiri pada satu alamat. Ia berpindah, mengikuti mereka yang kita cintai. Dan ketika orang tua telah tiada, kitalah yang perlahan harus belajar menjadi rumah itu - tempat anak, keponakan, dan cucu pulang.


Pesawat mungkin membawa kita lebih cepat sampai. Tetapi laut mengajarkan kita untuk melihat lebih jauh ke dalam.


Dan dalam perjalanan pulang kali ini, saya tidak hanya kembali ke Pekanbaru.


Saya kembali dengan pemahaman yang lebih utuh tentang arti pulang.[]