SABTU, 19-4-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
The Prize : Belajar dari Buku Lama, di Tengah Krisis

The Prize : Belajar dari Buku Lama, di Tengah Krisis

Ada pernyataan menarik - atau mungkin sedikit menggelitik - dari Bahlil Lahadalia dalam sebuah podcast baru-baru ini. Ia menyebut bahwa krisis harga minyak akibat konflik global hari ini “tidak bisa dijawab dengan ilmu dari buku.”

Kalimat itu terdengar tegas. Bahkan mungkin terasa realistis. Dunia memang berubah cepat. Situasi geopolitik kerap tak terduga. Tetapi, benarkah buku tidak lagi relevan?

Di sinilah saya justru teringat pada karya klasik Daniel Yergin, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money, and Power—sebuah buku “lawas” yang justru terasa semakin aktual hari ini. Buku ini terbit 1991, mungkin Menteri Bahlil belum sempat baca.

Yergin tidak menulis ramalan. Ia menulis pola.

Dan terus-terang, bagi yang suka membaca tulisan pendek, buku seribu halaman dengan bertabur grafik dan tabel ini tidak mudah.

Dalam hampir seribu halaman, ia menunjukkan bahwa krisis energi bukanlah kejadian acak. Ia berulang. Dengan aktor berbeda, lokasi berbeda, tetapi logika yang sama: perebutan kendali atas sumber daya strategis. Ketika konflik pecah di kawasan penghasil minyak - seperti yang kita lihat hari ini di sekitar Timur Tengah harga akan bergejolak. Pasokan terganggu. Kepanikan pasar meningkat. Dan negara-negara pengimpor seperti Indonesia akan ikut menanggung akibatnya.

Apakah ini situasi baru? Tidak.

Dunia pernah mengalami hal serupa saat Krisis Minyak 1973, ketika OPEC menggunakan minyak sebagai alat tekanan politik. Hasilnya? Inflasi melonjak, ekonomi terguncang, dan kebijakan negara-negara berubah drastis. Jika hari ini kita merasa situasi terasa familiar, itu karena memang sejarahnya berulang, hanya aktornya yang berganti.

Di titik ini, pernyataan bahwa “ilmu buku tidak relevan” justru perlu dipertanyakan. Buku seperti The Prize bukan sekadar kumpulan teori. Ia adalah dokumentasi panjang tentang bagaimana dunia energi bekerja. Mengabaikannya sama saja dengan menolak belajar dari pengalaman kolektif umat manusia.

Tentu, tidak semua jawaban ada di buku. Tetapi tanpa kerangka berpikir yang dibangun dari pengetahuan, kita hanya akan menjadi reaktif dan menunggu krisis datang, lalu sibuk mencari alasan.

Masalahnya, Indonesia hari ini bukan berada dalam posisi yang kuat. Kita adalah net importer minyak. Artinya, setiap gejolak global langsung berdampak ke dalam negeri. Ketika harga minyak dunia naik, ruang fiskal kita tertekan. Subsidi membengkak. Pilihan kebijakan menjadi serba tidak ideal.

Dan di sinilah ironi itu muncul.

Kita pernah menjadi bagian dari produsen. Kita pernah duduk di meja yang sama dengan negara-negara penghasil minyak dunia. Namun hari ini, kita lebih sering menjadi pihak yang menyesuaikan diri terhadap keputusan orang lain.

Apakah ini tak bisa dipelajari dari buku?

Justru sebaliknya. Buku seperti The Prize memberi kita satu pelajaran mendasar: negara yang kuat dalam energi tidak bergantung pada keberuntungan. Mereka membangun strategi. Mereka membaca tren. Mereka mengantisipasi krisis sebelum krisis itu datang.

Bandingkan dengan pola kita hari ini. Ketika harga naik, kita sibuk menghitung ulang subsidi. Ketika tekanan meningkat, kita mencari solusi jangka pendek. Tidak salah, tetapi jelas belum cukup.

Sentuhan sinisme mungkin diperlukan di sini. Bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menyadarkan.

Mengatakan bahwa krisis tidak bisa dijawab dengan ilmu buku bisa jadi terdengar keren. Seolah menunjukkan bahwa realitas lebih kompleks dari teori. Tetapi tanpa fondasi pengetahuan, kebijakan berisiko menjadi sekadar reaksi spontan, bukan keputusan strategis.

Dan sejarah menunjukkan, dalam dunia energi, reaksi spontan sering kali mahal harganya.

Bagi kelas menengah Indonesia yang merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM, biaya transportasi, hingga harga kebutuhan pokok, maka isu ini bukan sekadar wacana elit. Ini soal daya beli, stabilitas hidup, dan kepastian masa depan.

Maka, alih-alih menolak buku, mungkin kita perlu kembali membacanya dengan lebih serius.

Karena di tengah dunia yang berubah cepat, satu hal tetap konstan:
pola kekuasaan tidak pernah benar-benar berubah.

Dan buku seperti The Prize tidak menawarkan jawaban instan. Ia menawarkan sesuatu yang lebih penting: cara memahami.

Pertanyaannya bukan lagi apakah buku relevan atau tidak.
Tetapi apakah kita cukup rendah hati untuk belajar darinya?