Percepat Infrastruktur, Wako Agung Nugroho Kedepankan Kolaborasi Strategis dengan Pihak Swasta


Minggu, 12-4-2026


Percepat Infrastruktur, Wako Agung Nugroho Kedepankan Kolaborasi Strategis dengan Pihak Swasta
Wali Kota Agung Nugroho.

PEKANBARU--Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru di bawah kepemimpinan Wali Kota Agung Nugroho mulai menerapkan paradigma baru dalam percepatan pembangunan daerah. Pembangunan infrastruktur di Kota Bertuah kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kekuatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), melainkan diperkuat melalui kolaborasi strategis dengan berbagai badan usaha dan pihak swasta.


Langkah ini diambil sebagai solusi cerdas di tengah keterbatasan anggaran pemerintah guna memenuhi kebutuhan fasilitas publik yang semakin mendesak. Menurut Agung Nugroho, pendekatan yang dijalankan saat ini menitikberatkan pada prinsip kerja sama sukarela tanpa ada unsur paksaan maupun tekanan birokrasi.


Strategi ini dinilai sangat efektif untuk mengoptimalkan penggunaan APBD agar dapat dialokasikan pada sektor prioritas lain yang lebih mendesak, seperti pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi. Pemerintah berperan sebagai fasilitator yang memberikan ruang bagi swasta untuk berkontribusi nyata dalam membangun kota. Ia menekankan bahwa transparansi dan niat baik menjadi fondasi utama dalam setiap kesepakatan yang dibangun antara pemerintah dan pelaku usaha.


"Kolaborasi ini terjalin tanpa ada unsur paksaan sedikit pun. Silakan dicek ke mana saja, karena paradigmanya saat ini sudah benar-benar berbeda. Kita ingin semua pihak merasa memiliki kota ini," tegas Agung Nugroho.


Di bawah kepemimpinan duet Agung Nugroho dan Wakil Wali Kota Markarius Anwar, kontribusi sektor swasta dalam infrastruktur mulai menunjukkan tren positif. Hal ini dilakukan sebagai strategi jitu untuk mempercepat kemajuan daerah tanpa mengabaikan kualitas layanan kepada masyarakat. Keterlibatan swasta dianggap sebagai mesin penggerak tambahan yang mampu mengejar ketertinggalan pembangunan di titik-titik krusial yang selama ini belum tersentuh anggaran rutin.


Agung menjelaskan, keberhasilan pemerintah dalam mengelola berbagai program yang dibiayai dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), seperti perbaikan jalan dan peningkatan layanan kesehatan, telah menumbuhkan kepercayaan tinggi dari pelaku pasar.


Kepercayaan inilah yang memicu badan usaha untuk ikut berpartisipasi secara sukarela. Mereka melihat adanya stabilitas dan arah pembangunan yang jelas, sehingga merasa aman untuk menanamkan modal sosial maupun fisiknya di Pekanbaru.


"Hari ini, masyarakat maupun badan usaha berlomba-lomba memberikan kontribusi tanpa ada unsur pemerasan untuk membangun daerah. Kami juga sangat menjaga integritas dengan tidak menerima uang tunai dari mereka. Kita mempersilakan mereka untuk membangun sendiri fasilitas tersebut sesuai dengan standar yang kita tentukan," jelasnya secara rinci.


Sistem ini memastikan bahwa pembangunan yang dihasilkan benar-benar berwujud fisik dan dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh warga.


Komunikasi Kunci Utama


Keberhasilan kolaborasi tanpa APBD ini sudah terlihat nyata di lapangan melalui sejumlah proyek strategis yang telah tuntas berdiri. Di antaranya adalah pembangunan belasan halte bus Trans Metro Pekanbaru di berbagai ruas jalan utama, penataan taman di Simpang Sebidang Arifin Ahmad, pembangunan bundaran serta air mancur di depan Mal Pekanbaru Sudirman, hingga revitalisasi taman di bawah Jembatan Leighton 1 yang kini menjadi ruang publik baru bagi warga.


Agung menambahkan bahwa komunikasi yang inklusif antara pemerintah daerah dan pihak swasta merupakan kunci utama keberhasilan ini. Bahkan, ia mengungkapkan bahwa saat ini sebagian besar usulan pembangunan justru datang langsung dari inisiatif badan usaha melalui pengajuan surat resmi.


"Kami mengutamakan berkomunikasi dengan baik, dan mereka inilah yang proaktif mengusulkan surat untuk ikut serta membangun kota," pungkas Agung optimis.[rr/mcr]

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT