SABTU, 25-4-2026

IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial

Ilustrasi.
Si Kuncung: Sahabat Bacaan Anak Sekolah Dasar
MASA kecil yang hangat hampir selalu punya satu kesamaan: ditemani bacaan yang melekat di ingatan. Dari sekian banyak majalah anak yang pernah hadir, ada satu yang sulit dilupakan, Si Kuncung. ia adalah pionir majalah anak-anak ikut membentuk lanskap literasi generasi muda Indonesia pada masanya. Sebelum majalah Bobo dan Kawanku mulai masuk membawa literasi majalah ala luar negeri.
Si Kuncung bukan sekadar majalah biasa. Ia lahir pada masa awal kebebasan pers, tepatnya 1 April 1956, digagas oleh Sudjati S.A., seorang insan pers yang pernah berkiprah di harian Asia Raja. Sejak kemunculannya, majalah ini langsung mendapat tempat di hati pembaca cilik lewat sajian yang ringan, menghibur, namun tetap bernilai.
Ciri khasnya mudah dikenali. Logo anak-anak dengan topi kertas sambil membawa spanduk bertuliskan “Si Kuncung, Bacaan Sekolah Dasar” memberi kesan akrab dan menyenangkan. Harganya pun bersahabat, cuma sekitar Rp 25, dan membuatnya mudah dijangkau oleh berbagai kalangan.
Tak heran jika oplahnya melonjak. Menjelang 1970, setiap edisi mampu terjual hingga ratusan ribu eksemplar. Lebih dari sekadar hiburan, Si Kuncung menjadi pemantik lahirnya berbagai majalah anak lain di Indonesia.
Saya ingat semasa kecil di kota kelahiran saya di Selatpanjang pada kurun awal 1970-an majalah ini bisa dibeli di Kantor Pos.
Namun perjalanan tak selalu mulus. Perubahan politik saat Orde Baru mulai berkuasa membawa dampak besar. Si Kuncung kemudian diarahkan masuk ke dalam skema pendidikan nasional, termasuk dalam program peningkatan mutu pendidikan melalui Instruksi Presiden tahun 1973.
Di titik inilah arah majalah ini berubah. Hubungannya dengan pemerintah menjadi semakin erat, tetapi juga diiringi kontrol yang makin ketat; baik dari sisi isi maupun distribusi. Akibatnya, ruang kreatifnya menyempit. Ia mulai tertinggal dalam mengikuti selera baru anak-anak yang terus berkembang.
Pelan tapi pasti, pamornya menurun. Sejak 1988, keberadaannya lebih banyak bertahan di perpustakaan, sebelum akhirnya benar-benar berhenti terbit pada 1997.
Meski telah lama tiada, jejak Si Kuncung belum hilang. Ia tetap hidup dalam ingatan mereka yang pernah tumbuh bersamanya sebagai teman kecil yang setia, yang menghadirkan cerita, tawa, dan pelajaran sederhana.
Mengangkat kembali kisah Si Kuncung bukan sekadar nostalgia. Ia adalah cermin perjalanan media anak di Indonesia, tentang kreativitas, intervensi, dan perubahan zaman. Dari sana, kita diingatkan bahwa tradisi membaca anak bukan hanya perlu dikenang, tetapi juga dijaga dan dikembangkan dengan kesungguhan.[]