.

Irwan dan Gas Tinggi Pramuka Riau


Kamis, 21-8-2025


Irwan dan Gas Tinggi Pramuka Riau
Drs. Irwan, M.Si.

Awal Agustus 2025. Panas pagi baru menyengat ketika suara mesin berat meraung di halaman belakang Kantor Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka Riau, Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Tanah seluas setengah hektare yang semula ditumbuhi semak dan tumbuhan liar, dalam hitungan hari, berubah menjadi lapang dan terang.


Bagi orang lain, itu mungkin cuma pembukaan lahan. Tapi bagi Drs. Irwan, M.Si., itu langkah pertama: memulai era baru Gerakan Pramuka Riau.


Padahal, saat ekskavator mulai bekerja, ia belum dilantik resmi sebagai Ketua Kwarda. Surat Keputusan dari Ketua Kwartir Nasional, Komjen Pol (Purn.) Budi Waseso, memang sudah ia terima—Nomor 124 Tahun 2025—tapi seremoni pelantikannya masih di kalender yang belum ditentukan.


Namun Irwan tak menunggu aba-aba. Ia tancap gas, seperti gaya khasnya saat memimpin Kabupaten Kepulauan Meranti dua periode.


Mata Tajam di Balik Kaus Pramuka


Irwan bukan pemimpin baru. Pria kelahiran Selatpanjang, 31 Desember 1969, itu sudah malang-melintang di birokrasi sejak era Orde Baru. Dari Batam, Siak, hingga Pemerintah Provinsi Riau, ia menduduki banyak jabatan strategis, terutama di bidang anggaran dan perencanaan. Tahun 2010 hingga 2020, ia menjabat sebagai Bupati Meranti.


Irwan dikenal sebagai sosok teknokrat—tegas, sistematis, tapi diam-diam punya insting politik yang tajam. Ia terbiasa mengidentifikasi peluang dari ruang-ruang yang tak dilirik orang. Seperti yang ia lakukan pada lahan kosong di belakang kantor Pramuka itu.


“Sudah bertahun-tahun jadi semak. Padahal letaknya strategis. Depan RSUD Arifin Achmad, samping Fakultas Kedokteran Unri. Dua-duanya kekurangan tempat parkir,” ujar salah seorang pengurus Kwarda Riau. Irwan tak hanya membersihkan lahan, tapi juga menginisiasi sistem penyewaan lahan parkir itu.


Hasilnya akan dikelola sebagai sumber pendapatan Gerakan Pramuka.


Pramuka Dagang dan SPBU


Proyek lahan parkir hanyalah pembuka. Dalam rapat-rapat terbatas internal Kwarda, Irwan menggulirkan ide lebih jauh: mendirikan koperasi Pramuka. Isinya? Sembako dan kebutuhan pokok harian masyarakat, dijual di bawah harga pasar.


Model koperasi itu, menurut rencana, tidak hanya beroperasi di Pekanbaru. Irwan membayangkan jaringan distribusi ke seluruh cabang Pramuka di kabupaten/kota. “Gerakan sosial harus punya fondasi ekonomi,” kata Irwan dalam salah satu pertemuan internal, seperti dituturkan seorang pengurus Kwarda.


Belum cukup? Irwan juga membidik satu proyek ambisius: memfungsikan lahan bumi perkemahan milik Pramuka sebagai lokasi pembangunan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) atau unit bisnis sejenis, sesuai perizinan yang berlaku.


Bumi perkemahan yang selama ini nyaris tak digunakan, akan diubah menjadi aset produktif. “Kami sudah memulai kajian, bahkan sudah menjajaki komunikasi dengan pihak Pertamina,” ujar salah seorang yang belum mau namanya disebutkan, di Kwarda.


Irwan melihat Pramuka tak cukup hanya bergantung pada subsidi. Ia ingin lembaga ini punya daya tahan dan daya kelola keuangan.


Membentuk Ulang Peran Pramuka


Bagi Irwan, revitalisasi Gerakan Pramuka tak cukup hanya mengandalkan aktivitas kepramukaan konvensional. Dunia berubah. Pramuka juga harus berubah.


Sebagai organisasi pendidikan non-formal yang membentuk karakter generasi muda, menurut Irwan, Pramuka harus punya akar sosial sekaligus basis ekonomi. Ia menolak menjadikan Kwarda hanya sebagai tempat berkegiatan simbolik.


Langkah-langkah yang ditempuh Irwan mengundang perdebatan internal. Beberapa pengurus lama merasa pendekatannya terlalu "korporatif". Tapi sebagian besar menyambutnya sebagai angin segar setelah stagnasi panjang.


“Kalau hanya mengandalkan proposal dan dana hibah, kita tidak akan pernah mandiri,” ujar Irwan dalam satu diskusi internal, menurut catatan sumber riauraya.com.


Track Record dan Narasi Besar


Terobosan Irwan di Kwarda Riau bukan lahir tiba-tiba. Ia dikenal sebagai pemimpin yang suka melampaui pakem. Di Meranti, ia tercatat menggagas berbagai program inovatif—dari pertumbuhan ekonomi berbasis komoditas sagu, sampai festival budaya seperti Festival Perang Air yang masuk rekor MURI.


Ia juga pernah menerima Riau Investment Award, WTP dari Presiden RI, hingga penghargaan infrastruktur dari Sindo Weekly. Irwan mengoleksi lebih dari 20 penghargaan nasional sepanjang kariernya.


Namun yang membuatnya berbeda adalah konsistensinya membangun dari bawah. Sebagian besar proyeknya bersifat infrastruktur dasar atau penguatan kelembagaan lokal. Ia bekerja diam-diam, jarang tampil di media, tapi hasilnya terlihat.


Kini, narasi besar itu mulai ia dorong ke tubuh Pramuka.


Kembali ke Akar: Dari Lubuk Baja ke Banglas


Irwan memulai jejak kepramukaannya sebagai Ketua Mabiran di Kecamatan Lubuk Baja, Batam. Lalu naik menjadi Ketua Mabicab di Meranti, dan kini memegang tampuk pimpinan tertinggi Pramuka di Riau.


Bagi Irwan, ini bukan posisi simbolik. Ia menyebut Pramuka sebagai “laboratorium kepemimpinan yang paling jujur.” Karena itu ia ingin membawa gerakan ini ke tengah-tengah masyarakat, bukan hanya berkutat di tenda dan api unggun.


Lewat langkah-langkah konkret—entah itu lahan parkir, koperasi, hingga SPBU—ia sedang membangun satu pesan: Pramuka bisa jadi aktor pembangunan.


Gas Tinggi, Belum Injak Rem


Hari ini, Kamis 21 Agustus 2025, pelantikan Irwan sebagai Ketua Kwarda Riau belum juga digelar. Namun sebagian besar program strategisnya sudah jalan. Tanpa banyak poster. Tanpa seremoni.


Irwan memang tak dikenal gemar membuat pidato panjang. Ia lebih suka bekerja dalam diam. Tapi bagi pengurus Pramuka Riau, diam Irwan adalah tanda tanya yang produktif. Karena di balik diam itu, satu demi satu roda organisasi mulai bergerak.


Mungkin ini awal yang sederhana: membersihkan semak. Tapi dari situlah perubahan kerap dimulai. Irwan tak sedang menata taman. Ia sedang menata ulang wajah Pramuka Riau.


Dan sementara yang lain masih menunggu pelantikan, Irwan sudah memilih untuk berjalan. Bahkan berlari. *** 


Penulis Azmi Bin Rozali