Portal Berita Online


Setiap tanggal 17 Agustus, jutaan pasang mata menyaksikan bendera Merah Putih berkibar diiringi lagu kebangsaan yang sakral. Kita menyebut diri kita orang Indonesia. Namun, pernahkah kita merenungkan bagaimana nama "Indonesia" itu lahir? Nama negara kita bukanlah warisan kerajaan purba seperti Majapahit atau Sriwijaya. Nama ini adalah sebuah rancangan intelektual yang bertransformasi menjadi sebuah senjata politik paling mematikan bagi kolonialisme Belanda.
Akar Sains dari Selat Malaka
Lahirnya nama Indonesia dimulai pada pertengahan abad ke-19, tepatnya tahun 1850. Seorang etnolog asal Inggris bernama George Samuel Windsor Earl menulis sebuah artikel di jurnal ilmiah Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia di Singapura. Earl merasa wilayah kepulauan Nusantara membutuhkan nama geografis yang spesifik. Ia mengusulkan dua nama: Malayunesians atau Indunesians. Earl sendiri secara pribadi lebih menyukai nama pertama.
Namun, rekan sejawatnya yang merupakan seorang sastrawan sekaligus pengacara asal Skotlandia, James Richardson Logan, memiliki pandangan lain. Logan mengadopsi gagasan Earl, tetapi ia memilih kata Indunesians. Agar terdengar lebih indah di telinga dan mudah diucapkan, Logan melakukan modifikasi linguistik krusial: ia mengubah huruf "u" menjadi "o", sehingga lahirlah kata Indonesia.
Secara etimologi Yunani kuno, kata ini memiliki makna geografis yang sangat presisi. Ia dibentuk dari kata Indos (India/Hindia) dan Nesos (Kepulauan). Secara harfiah, Indonesia bermakna "Kepulauan Hindia". Di tangan para ilmuwan Eropa ini, Indonesia barulah sebatas istilah geografi dan etnografi pembuat peta, belum memiliki ruh ataupun darah.
Tangan Dingin Para Pelopor Politik
Ruh politik itu ditiupkan pertama kali oleh Suwardi Suryaningrat, tokoh yang kelak kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara. Pada tahun 1913, akibat kritik tajamnya terhadap pemerintah kolonial, Suwardi dibuang ke Belanda. Di pengasingan, ia menolak mati kutu. Pada tahun yang sama di Den Haag, ia mendirikan Indonesisch Pers-bureau (Kantor Berita Indonesia). Ini adalah momentum bersejarah di mana kata "Indonesia" untuk pertama kalinya digunakan secara resmi oleh putra petala petir bumiputera untuk institusi formal. Langkah ini berhasil memotong ketergantungan psikologis dari istilah berbau penjajahan seperti Nederlandsch-Indiƫ (Hindia Belanda).
Estafet perjuangan identitas ini kemudian dilanjutkan dengan sangat radikal oleh Mohammad Hatta dan para mahasiswa di Belanda. Pada tahun 1922, organisasi mereka Indische Vereeniging bertransformasi menjadi Indonesische Vereeniging, yang kemudian diindonesiakan menjadi Perhimpunan Indonesia (PI) pada 1925. Hatta dan kawan-kawan mengubah nama majalah mereka dari Hindia Poetra menjadi Indonesia Merdeka. Bagi Hatta, menggunakan nama Indonesia adalah sebuah Manifesto Politik. Ia menegaskan kepada dunia bahwa kita adalah satu bangsa mandiri yang berdaulat, jauh sebelum negaranya sendiri berdiri. Nama ini kemudian "pulang kampung" dan meledak secara massal dalam ikrar sakral Sumpah Pemuda 1928.
Ketakutan Belanda dan Upaya Penghapusan
Pemerintah kolonial Belanda menyadari bahaya laten di balik kata ini. Mereka sangat ketakutan melihat bagaimana sebuah nama fiksi ilmiah abad ke-19 bisa menyatukan ratusan suku bangsa yang terpisah lautan. Oleh karena itu, Belanda melakukan berbagai upaya keras untuk memberangus dan menghilangkan kata "Indonesia" dari ruang publik.
Undang-undang kolonial melarang penggunaan kata "Indonesia" dalam rapat-rapat politik resmi dan penerbitan pers. Bagi Belanda, nama resmi wilayah ini harus tetap Nederlandsch-Indiƫ. Siapa pun yang berani memekikkan kata "Indonesia" di muka umum dicap sebagai ekstremis, penghasut, atau pemberontak yang siap diasingkan ke Boven Digoel. Bahkan setelah Proklamasi 1945, Belanda meluncurkan Agresi Militer untuk merebut kembali jajahannya dan berupaya memecah belah negara ini menjadi negara-negara boneka kecil demi menghapus eksistensi kesatuan Republik Indonesia.
Namun sejarah mencatat, represi Belanda justru memicu api nasionalisme yang kian berkobar. Melalui perjuangan diplomasi berdarah-darah, nama Republik Indonesia akhirnya diakui secara mutlak oleh Belanda lewat Konferensi Meja Bundar (1949) dan dikukuhkan di panggung tertinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 1950.
Merayakan HUT RI bukan sekadar mengingat upacara proklamasi, melainkan merayakan kemenangan sebuah identitas. Indonesia tidak lahir dari pemberian, melainkan dari keberanian para intelektual dan pemuda yang merebut nama mereka sendiri dari sejarah global. [naz]