Portal Berita Online


Batam lagi genit-genitnya. Daerah yang dulu didesain BJ Habibie untuk menyaingi Singapura ini sedang jadi primadona baru dunia digital. Ratusan triliun rupiah uang dari raksasa teknologi global sedang mengalir ke sana. Tujuannya satu: membangun Data Center skala monster.
Katanya, Batam mau dijadikan pusat kecerdasan buatan (AI Factory). Keren. Sangat keren.
Tapi, awal pekan ini, kota modern itu mendadak jadi purba. Gelap gulita. Pemadaman massal—alias blackout—terjadi berjam-jam. Bukan cuma listrik yang tewas, air bersih pun ikut macet. Warga Batam yang sudah bergaya hidup digital terpaksa mengungsi ke mal-mal hanya demi mencari colokan listrik, sinyal, dan kamar mandi. Tragis.
Instansi resmi terkait sibuk mencari kambing hitam. Ada rumor klasik yang beredar: gangguan gardu induk akibat gangguan eksternal. Katanya, ada hewan liar masuk ke area Gardu Induk Sungai Harapan. Entah burung, entah monyet, atau ular. Kita sudah terlalu sering mendengar cerita tentang sistem kelistrikan berteknologi canggih yang bisa takluk oleh seekor hewan.
Di sinilah akal sehat kita mulai menggelitik. Di mana peran BP Batam selaku dirigen utama wilayah ini? Mereka begitu agresif "menjual" Batam ke luar negeri, menggelar karpet merah untuk investasi Data Center kelas kakap, tapi lupa menengok ke belakang. Apakah kapasitas dapurnya cukup?
Mari kita gunakan logika orang awam. Data Center itu, gampangnya, adalah kumpulan ribuan komputer raksasa yang menyala 24 jam tanpa henti. Komputer-komputer ini rakus. Mereka tidak hanya haus listrik dalam jumlah megawatt yang mengerikan, tapi juga haus air bersih jutaan liter per hari untuk mendinginkan mesin-mesinnya agar tidak meledak karena kepanasan.
Pekan lalu, warga Nongsa sempat demo besar-besaran karena air bersih macet berhari-hari. Pekan ini, giliran listriknya yang ambruk total.
Muncul pertanyaan nakal: Apakah pasokan daya dan air warga sebenarnya sedang "dihisap" secara diam-diam demi menjaga agar mesin-mesin Data Center global itu tetap dingin? Apakah warga sedang dikorbankan demi mengejar rapor hijau target investasi kementerian?
Kita tahu, kementerian terkait di Jakarta sana gemar sekali memamerkan angka-angka investasi digital yang fantastis. Tapi mereka sering lupa bahwa di lapangan, sistem kelistrikan Batam itu menganut sistem Island Grid—jaringan yang terisolasi, tidak tersambung ke sistem raksasa seperti Jawa-Bali. Jaringan seperti ini sangat sensitif. Jika ada satu proyek besar melakukan uji coba sistem (testing) dan mendadak menyedot daya kejut yang terlalu masif, relai pengaman PLN pasti akan langsung trip (putus otomatis) demi menyelamatkan gardu agar tida meledak.
Apakah itu yang terjadi? Uji coba rahasia dari salah satu raksasa teknologi yang kebablasan, lalu "hewan liar" dijadikan tameng birokrasi?
Kita mungkin tidak akan pernah mendapat jawaban jujur di atas kertas bermeterai. Pejabat kita tentu ingin proyek megah ini tetap tancap gas demi gengsi di hadapan Singapura.
Tapi tulisan ini tidak ingin menuduh siapa-siapa. Ini hanya ruang untuk merenung sambil menikmati kopi yang mulai dingin karena dispenser di rumah mati.
Batam ingin melompat ke masa depan digital yang serba canggih. Tapi para pembuat kebijakan kita tampaknya lupa satu hal dasar: komputer secanggih apa pun, kalau colokan listriknya masih kembang-kempis dan airnya mampet, tetap saja jadi rongsokan besi yang gelap.
Ape kaba Wayy? Apakah listrik di tempat awak hari ini dah aman, atau masih harus mengungsi ke Nagoya Hill?