GLOSARIUM SABTU, 5-9-2026



IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial

Heboh Desil

Heboh Desil

Pusing. Pasti pusing. Terutama bagi warga yang mendadak divonis menjadi "orang kaya baru" oleh komputer pemerintah.


Belakangan ini, jagat media sosial riuh rendah. Ceritanya mirip semua: warga yang ekonominya pas-pasan, buruh harian, atau pengemudi ojek, mendadak kehilangan hak bantuan sosial. KIP Kuliah anak mereka diputus. Subsidi listrik dicabut.


Pas dicek, biang keladinya satu kata: Desil. Status mereka di layar komputer melonjak drastis masuk ke Desil 10. Artinya? Mereka dianggap masuk kelompok 10 persen manusia paling kaya di negeri ini.


Ajaib. Di atas kertas mereka sekaya taipan, tapi di dapur beras habis.


Sebenarnya, apa itu desil?


Mari kita buka kamus asalnya. Kata desil ini diserap dari bahasa Latin: "decimus" Artinya sederhana: sepersepuluh. Di dunia ilmu hitung alias statistika, desil adalah metode membagi tumpukan data menjadi sepuluh bagian yang sama besar. Syaratnya, data harus diurutkan dulu dari yang terkecil sampai terbesar.


Siapa yang pertama kali punya ide ini?


Namanya Sir Francis Galton. Beliau ilmuwan dan statiskiawan genius asal Inggris yang hidup di akhir abad ke-19. Uniknya, waktu Galton pertama kali memakai rumus desil ini, beliau bukan sedang pusing menghitung orang miskin atau anggaran bansos. Galton memakainya untuk meneliti variasi tinggi badan manusia dari berbagai kelas sosial di Inggris.


Dari urusan tinggi badan itulah, rumus pembagian ini meluas ke mana-mana. Dipakai di bursa saham untuk memilah reksa dana mana yang paling untung dan mana yang paling buntung.


Lalu, diadopsi oleh pemerintah untuk mengukur kesejahteraan rakyat.


Bayangkan seluruh kepala keluarga di sebuah daerah disuruh berbaris panjang. Diurutkan. Yang paling melarat berdiri di urutan paling depan. Yang paling kaya di urutan paling belakang.

Barisan raksasa ini kemudian dipotong menjadi 10 kelompok yang isinya sama rata. Kelompok 1 (Desil 1) adalah yang paling susah, 10 persen terbawah. Kelompok 10 (Desil 10) adalah kelompok paling makmur, 10 persen teratas. Pemerintah tinggal membuat aturan gampang: bansos hanya untuk Desil 1 sampai Desil 4.


Lalu, kenapa sistem yang tujuannya mulia ini sekarang bikin heboh dan memicu protes?


Pangkal masalahnya ada pada watak statistik yang kaku: forced distribution. Distribusi yang dipaksakan. Kuota tiap desil itu dikunci mati oleh rumus harus pas 10 persen. Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.


Masalah muncul ketika pemerintah mulai melakukan robotisasi data. Semua data digabung. Data pajak, data kepemilikan motor, sampai data meteran listrik PLN dimasukkan ke satu wadah.


Komputer tidak punya hati. Dia hanya membaca angka dan indikator.


Kalau nama atau NIK Anda kebetulan dipinjam saudara untuk kredit motor, komputer langsung mencatat Anda punya aset tambahan. Kalau daya listrik rumah Anda dinaikkan secara massal oleh PLN, komputer mengira Anda sudah makmur.


Karena kuota desil bawah terkunci mati harus 10 persen, sistem komputer harus mendepak seseorang ke belakang agar angkanya pas. Maka, nama Anda pun terlempar jauh ke antrean paling belakang: Desil 10. Anda dipaksa menjadi kaya di atas kertas demi menyelamatkan kesucian rumus matematika.


Di sinilah letak gonjang-ganjingnya. Angka yang bersifat relatif di layar monitor, dipaksakan menjadi penentu hidup-mati nasib absolut manusia di dunia nyata.


Data statistik itu alat bantu, bukan kitab suci. Heboh desil hari-hari ini memberi tahu kita satu hal: secanggih apa pun sistem komputer yang dibangun, verifikasi mata dan hati manusia di lapangan tetap tidak bisa digantikan. Keadilan sosial tidak boleh tersesat di dalam labirin angka.


Desil berhasil bikin heboh [naz]