Jaga Gambut Tetap Basah, Menteri LH Perkuat Sekat Kanal di Pelalawan


Sabtu, 20-6-2026


Jaga Gambut Tetap Basah, Menteri LH Perkuat Sekat Kanal di Pelalawan

PELALAWAN--Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menjelang musim kemarau. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, memimpin langsung penguatan kolaborasi lintas sektor di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) Sungai Kampar–Sungai Gaung, Kabupaten Pelalawan, Kamis (18/6/2026).


Langkah tersebut dilakukan melalui pembangunan dan penguatan sekat kanal, pemulihan kawasan penyangga (buffer zone), serta peningkatan peran masyarakat dalam menjaga ekosistem gambut sebagai bagian dari strategi perlindungan lingkungan jangka panjang.


Menurut Jumhur, Kabupaten Pelalawan menjadi salah satu wilayah prioritas pengendalian karhutla nasional karena memiliki kawasan gambut yang luas, khususnya di KHG Sungai Kampar–Sungai Gaung.


“Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, dunia usaha, dan masyarakat sangat penting untuk memastikan ekosistem gambut tetap basah sehingga risiko kebakaran dapat ditekan,” ujarnya.


Ia menjelaskan, upaya pembasahan gambut menjadi sangat penting mengingat dari sekitar 13,36 juta hektare lahan gambut di Indonesia, sekitar 3,31 juta hektare di antaranya mengalami kerusakan dan memerlukan pemulihan.


Untuk itu, KLH/BPLH bersama berbagai pihak terus mendorong pembangunan sekat kanal guna mengendalikan aliran air dan menjaga kelembapan lahan gambut.


“Kami ingin memastikan ketersediaan air di kawasan gambut tetap terjaga melalui pembangunan sekat kanal dan pengelolaan tata air yang baik sebagai langkah mitigasi karhutla,” katanya.


Selain pembangunan infrastruktur hidrologi, KLH/BPLH juga menerapkan sistem pemantauan muka air tanah secara real-time serta mendorong penerapan mekanisme berbagi air (water sharing) untuk menjaga kondisi gambut tetap basah selama musim kemarau.


Saat ini, kebutuhan sekat kanal di tujuh provinsi rawan karhutla mencapai lebih dari 538 ribu unit. Namun, yang telah tersedia baru sekitar 45 ribu unit sehingga percepatan pembangunan terus dilakukan.


Upaya tersebut diperkuat melalui Program Desa Mandiri Peduli Gambut (DMPG) berbasis konsep 3R, yakni Rewetting (pembasahan kembali), Revegetasi (penanaman kembali), dan Revitalisasi Ekonomi yang telah diterapkan di ribuan desa.


Dukungan juga datang dari masyarakat melalui kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di Teluk Meranti. Mereka secara rutin melakukan patroli lapangan dan pemantauan wilayah guna mencegah terjadinya kebakaran.


Perwakilan MPA Teluk Meranti, Marlizar, menyatakan kesiapan masyarakat untuk terus mendukung upaya pemerintah dan dunia usaha dalam pengendalian karhutla.


“Kami bersama masyarakat terus melakukan patroli dan pengawasan. Semoga pembangunan sekat kanal dapat terus ditingkatkan karena sangat membantu dalam mencegah kebakaran,” ujarnya.


Menteri Jumhur mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, sektor swasta, hingga masyarakat, untuk terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga ekosistem gambut. Menurutnya, upaya bersama tersebut menjadi kunci utama mencegah karhutla sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan keselamatan masyarakat.[rr/mcr]

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT