Portal Berita Online

PEKANBARU--Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru bergerak cepat menangani kasus diare yang terjadi di Jalan Pantau, RT 04/RW 05, Kelurahan Muara Fajar Barat, Kecamatan Rumbai Barat. Penanganan dilakukan setelah dua warga dilaporkan meninggal dunia, sementara lima warga lainnya yang sempat mengalami gejala serupa kini telah dinyatakan pulih.
Wakil Wali Kota Pekanbaru, Markarius Anwar, turun langsung meninjau lokasi pada Jumat (10/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan kondisi para korban yang telah sembuh sekaligus menyerahkan bantuan berupa makanan bergizi bagi 15 balita yang tinggal di lingkungan tersebut.
Menurut Markarius, pemerintah tidak hanya fokus pada penanganan korban, tetapi juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui sumber penyebab munculnya kasus diare. Pemeriksaan laboratorium terhadap air sumur warga maupun air minum kemasan yang digunakan masyarakat menunjukkan hasil negatif dari kontaminasi bakteri.
"Hasil pemeriksaan laboratorium memastikan air sumur dan air galon yang digunakan warga tidak menjadi sumber penyebaran bakteri. Karena itu, kami masih menelusuri faktor lain yang menjadi penyebab munculnya kasus ini," ujarnya.
Dugaan sementara mengarah pada persoalan sanitasi lingkungan yang masih belum memadai. Sejumlah rumah di kawasan tersebut diketahui belum memiliki fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) yang layak sehingga sebagian warga masih melakukan buang air besar di area kebun.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu penyebaran bakteri melalui lalat yang kemudian hinggap pada makanan. Selain sanitasi yang kurang baik, kebersihan makanan juga diduga menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya penyakit diare di lingkungan tersebut.
Sebagai langkah lanjutan, Pemko Pekanbaru akan meminta Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) melakukan kajian terkait pembangunan sumur bor guna meningkatkan akses air bersih bagi masyarakat. Pemerintah juga berupaya menyediakan fasilitas sanitasi yang lebih layak untuk mengurangi risiko munculnya penyakit serupa di masa mendatang.
Sementara itu, Ketua RT 04, Saberi, mengatakan wilayahnya dihuni sekitar 52 kepala keluarga. Sebagian besar warga bekerja sebagai buruh di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Muara Fajar, buruh bangunan, pekerja perkebunan sawit, hingga pengrajin batu bata.
Ia mengaku kasus tersebut baru diketahui setelah dua warga meninggal dunia dengan gejala muntah dan diare. Menyusul kejadian itu, pengurus lingkungan segera mengimbau masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan agar segera memeriksakan diri ke puskesmas.
Sejak kasus tersebut mencuat, petugas kesehatan dari puskesmas, pemerintah provinsi, serta kader posyandu telah melakukan pemeriksaan kesehatan, pendataan warga, dan memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan serta perilaku hidup sehat.
Saberi juga mengungkapkan masih terdapat sejumlah warga yang belum memiliki dokumen administrasi kependudukan sehingga belum tercatat dalam berbagai program pelayanan pemerintah, termasuk layanan kesehatan dan kegiatan posyandu. Karena itu, pihaknya terus mendorong masyarakat segera melengkapi dokumen kependudukan agar lebih mudah memperoleh akses terhadap berbagai layanan publik. [rr/prokopim]