Portal Berita Online

MERBAU - Turnamen Gasing se-Provinsi Riau ke-IV dan Lomba Silat Pengantin se-Kabupaten Kepulauan Meranti ke-II di Teluk Belitung tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya Melayu, tetapi juga berpotensi menggerakkan ekonomi masyarakat dengan nilai perputaran uang mencapai Rp116 juta.
Potensi tersebut berasal dari aktivitas perdagangan dan kebutuhan konsumsi selama kegiatan berlangsung. Dengan asumsi 10 pedagang memperoleh omzet Rp250.000 per hari selama delapan hari, perputaran uang diperkirakan mencapai Rp20 juta.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi sekitar 320 orang dengan belanja Rp20.000 setiap kali makan, tiga kali sehari selama lima hari, diperkirakan mencapai Rp96 juta.
Kegiatan yang didukung PT Imbang Tata Alam (ITA) ini dipusatkan di Gelanggang Gasing H Yahya, Hulu Asam, Kelurahan Teluk Belitung, Kecamatan Merbau. Pembukaan dilaksanakan pada Rabu (28/10/2026), dengan melibatkan 32 tim gasing dan 54 peserta silat pengantin tingkat SD, SMP, dan SMA sederajat.
Ketua Panitia sekaligus Ketua Komunitas Gasing (Komgas) Teluk Belitung, Andi Saputra, mengapresiasi dukungan PT ITA terhadap kegiatan tersebut. Ia berharap turnamen ini terus berkembang sebagai wadah pelestarian budaya sekaligus mempererat silaturahmi antarkomunitas.
Camat Merbau, Hj Wan Jumiati SE MSi, mengatakan permainan gasing merupakan bagian dari identitas masyarakat Melayu. Begitu pula silat pengantin yang mengandung nilai adat dan tradisi yang harus diwariskan kepada generasi muda.
Koordinator CSR EMP, Arip Hidayatullah, berharap kolaborasi komunitas, pemerintah, dan perusahaan dapat terus memperkenalkan keunikan budaya lokal hingga tingkat nasional.
Sementara itu, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Meranti, Saipul Bahri, mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Mewakili Bupati Kepulauan Meranti, ia secara resmi membuka turnamen.
Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur TNI-Polri, pemerintah kecamatan dan kelurahan, tokoh adat, organisasi masyarakat, serta komunitas budaya.
Melalui kegiatan ini, Teluk Belitung membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pedagang kecil dan pelaku UMKM setempat.[EPOLIZAN]