Portal Berita Online

PEKANBARU--Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan tidak ada titik panas (hotspot) yang terdeteksi di Provinsi Riau berdasarkan pembaruan data Sabtu (17/10/2026) pukul 16.00 WIB. Meski demikian, kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah dan menyebabkan penurunan jarak pandang.
Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan banyaknya titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera. Berdasarkan data BMKG, total titik panas yang terdeteksi di Pulau Sumatera mencapai 1.112 titik, dengan konsentrasi terbesar berada di Sumatera Selatan.
Prakirawan BMKG Stasiun Pekanbaru, Alfa Nataris, mengatakan sebanyak 950 titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan. Sementara itu, Lampung mencatat 77 titik, Kepulauan Bangka Belitung 52 titik, Jambi 28 titik, Aceh tiga titik, dan Bengkulu dua titik.
Alfa menjelaskan, meskipun tidak terdeteksi titik panas di Riau, kabut asap tetap berdampak pada jarak pandang di sejumlah kabupaten dan kota.
Berdasarkan data pengamatan pukul 16.00 WIB, jarak pandang di Kota Pekanbaru tercatat hanya 1,4 kilometer. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan dan transportasi udara.
Jarak pandang terpendek tercatat di Kabupaten Indragiri Hulu, yakni sekitar 800 meter akibat kabut asap. Sementara itu, jarak pandang di Kabupaten Pelalawan mencapai sekitar tiga kilometer dalam kondisi hujan ringan disertai asap.
Di Kabupaten Kampar, jarak pandang juga tercatat sekitar tiga kilometer dengan kondisi kabut asap yang masih cukup tebal.
Kondisi tersebut mengharuskan masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun berkendara di tengah keterbatasan jarak pandang.
BMKG mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak kabut asap terhadap kesehatan, khususnya risiko gangguan pernapasan.
Warga juga disarankan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta mengurangi kegiatan di luar rumah apabila kondisi asap semakin pekat.[rr/mcr]