Portal Berita Online

PEKANBARU--Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia, Benjamin Paulus Okta, mendorong Provinsi Riau menjadi salah satu pusat pencetak tenaga radiografer guna memperkuat layanan kesehatan dan mendukung program prioritas nasional, khususnya penanggulangan tuberkulosis (TB). Hal itu disampaikannya saat mengunjungi RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Selasa (4/8/2026).
Benjamin menegaskan, pembangunan sektor kesehatan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pada kualitas serta kecukupan sumber daya manusia (SDM) kesehatan.
Menurutnya, salah satu tantangan terbesar dalam meningkatkan layanan kesehatan adalah keterbatasan tenaga profesional yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan. Penyediaan peralatan medis dapat dilakukan dengan cepat, namun mencetak tenaga ahli memerlukan waktu dan perencanaan yang matang.
"Kami menyadari tantangan di lapangan, salah satunya adalah keterbatasan SDM. Membeli alat rontgen itu mudah, tetapi mencetak tenaga ahli yang mengoperasikannya tidaklah gampang," ujarnya.
Ia menjelaskan, kebutuhan tenaga radiografer akan terus meningkat seiring program nasional distribusi alat X-ray ke 4.000 puskesmas di seluruh Indonesia pada tahun depan. Untuk itu, Kementerian Kesehatan terus memperkuat kapasitas pendidikan tenaga kesehatan.
"Tahun depan Kementerian Kesehatan menargetkan distribusi alat X-ray ke 4.000 puskesmas di seluruh Indonesia. Otomatis kebutuhan tenaga radiografer akan meningkat pesat. Tahun ini kita sedang mencetak sekitar 1.200 radiografer dan berharap kebutuhan tersebut dapat terpenuhi pada tahun depan," jelasnya.
Benjamin mengatakan, pemerataan pendidikan radiografer menjadi langkah strategis agar kebutuhan SDM kesehatan tidak hanya bergantung pada daerah tertentu. Ia berharap Riau dapat menjadi salah satu pusat pendidikan radiografer di wilayah Sumatera.
"Saya mengimbau perguruan tinggi kesehatan di Pekanbaru segera membuka Program Studi Radiografer. Jangan sampai pencetakan SDM radiografer hanya terpusat di Pulau Jawa. Riau harus mampu mencetak tenaga radiografer sendiri untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Sumatera," ungkapnya.
Selain membahas penguatan SDM, Benjamin juga mengapresiasi capaian Pemerintah Provinsi Riau dalam pelaksanaan program penanggulangan tuberkulosis. Menurutnya, kinerja pemerintah daerah bersama tenaga kesehatan telah menunjukkan hasil yang baik.
Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari penemuan kasus, tetapi juga dari keberhasilan pengobatan hingga tuntas serta pemberian terapi pencegahan kepada kelompok yang berisiko tinggi atau memiliki kontak erat dengan pasien TB.
"Secara keseluruhan, kinerja penanggulangan TB di Provinsi Riau dan Kota Pekanbaru sudah sangat baik. Namun, yang harus kita kejar sekarang adalah memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga sembuh, sementara mereka yang berisiko atau memiliki kontak erat wajib memperoleh terapi pencegahan," tuturnya.
Menurut Benjamin, pengobatan yang tuntas dan pemberian terapi pencegahan merupakan strategi utama untuk memutus rantai penularan tuberkulosis. Tanpa langkah tersebut, target eliminasi TB akan sulit tercapai.
"Tanpa langkah mendasar ini, penanganan TB tidak akan pernah selesai dan hanya berputar di tempat. Sangat tidak elok jika Indonesia bercita-cita menjadi negara maju, tetapi kasus TB masih tinggi. Jika negara lain mampu membebaskan bangsanya dari TB, maka Indonesia pasti bisa," pungkasnya.[rr/mcr]