GLOSARIUM SABTU, 31-7-2026



IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial

Rem Blong
Ilustrasi.

Rem Blong

Heboh lagi. Di medsos, di grup WA, di warung kopi. Semua meributkan ucapan "ndasmu", "londo ireng", atau urusan salah hitung matematika dasar: 10+6=17. Mengapa seorang pemimpin bisa keseleo lidah begitu? Apakah karena pikun? Atau ada kepribadian ganda?


Penasaran dengan fenomena tersebut, dalam sebuah percakapan, iseng saya menanyakan hal itu kepada seorang teman yang berkecimpung di dunia psikiatri. Mari kita bedah penjelasannya dari kacamata medis yang santai. Biar jernih. Tanpa tensi politik.


Jawabannya pendek: Stres kronis. Tekanan batin yang menumpuk menahun.


Anda jangan bayangkan jadi pemimpin itu enak. Tidur kurang, jadwal padat, dikepung kritik, dan harus selalu tampak perkasa. Ketika tekanan itu terjadi terus-menerus, tubuh memproduksi hormon kortisol secara ugal-ugalan.


Kortisol ini jahat kalau kebanyakan. Dia menyerang bagian otak bernama prefrontal cortex. Itu lho, area di dahi yang fungsinya seperti rem darurat. Tugasnya mengatur logika, kesantunan, dan kontrol diri.


Kalau rem ini blong akibat banjir kortisol, yang mengambil alih adalah amigdala. Ini bagian otak purba. Otak reptil. Fungsinya cuma dua: lawan atau lari (fight or flight).


Maka, jangan heran kalau seorang pemimpin tiba-tiba bicara meledak-ledak. Spontan. Istilah kasar keluar begitu saja. Narasi menyerang seperti "antek asing" pun meluncur tanpa saringan. Itu bukan split personality. Itu murni pertahanan diri yang kelelahan. Remnya lagi blong.


Lalu bagaimana dengan salah hitung 10+6 jadi 17? Atau gagap mengulang kata "saya akan... saya akan..."?


Di dunia medis, itu disebut cognitive fatigue. Kelelahan kognitif. Otak kalau sudah kepanasan, sinyalnya macet. Mau mengambil data di memori, jalurnya terhambat. Jadilah keseleo lidah atau slip of the tongue.


Apakah itu demensia atau pikun? Belum tentu. Orang normal yang kurang tidur tiga hari saja bisa mendadak linglung saat disuruh berhitung. Bedanya, sang pemimpin melakukannya di depan kamera. Disaksikan jutaan pasang mata. Jadi gorengan politik yang renyah.


Melihat pemimpin yang lelah berkomunikasi semestinya membuat kita sadar, bahwa di balik jubah kekuasaan yang tampak gagah, ada sisi kemanusiaan yang juga bisa rapuh oleh tekanan. Daripada larut dalam caci maki atas setiap keseleo lidah, alangkah baiknya jika kita mulai memandang mereka dengan rasa empati—sebagai sesama manusia yang juga bisa penat, keliru, dan butuh ruang untuk bernapas.


Pemimpin juga manusia. Mereka bukan robot. Ketika mereka mulai sering glitch atau error dalam berkomunikasi, itu sinyal merah dari tubuh mereka. Sinyal bahwa otaknya butuh istirahat, bukan butuh diagnosis politik.


Bagaimana menurut Anda?


O ya... jangan tuding saya sedang mengincar posisi komisaris. Saya khawatir rem saya ikutan blong! [naz]