SABTU, 5-6-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
SEMAH

SEMAH

Menilik lembaran masa silam, kosmologi Melayu bukan sekadar hamparan tanah tempat berpijak dan laut tempat berlayar. Bagi orang Melayu di hulu dan hilir Riau, alam semesta adalah ruang hidup yang dikongsi bersama pelbagai makhluk, baik yang tampak oleh mata kasar maupun yang berselimut gaib. Di celah keyakinan purba inilah lahir Semah (atau menyemah), sebuah upacara sakral penyeimbang jagat. Tradisi ini merupakan ikhtiar luhur untuk merawat keselarasan, memohon keselamatan, dan memastikan gerak langkah manusia tidak menerbitkan murka para penguasa alam yang menghuni rimba, sungai, dan lautan.

Secara harfiah, menyemah bermakna membersihkan atau memuliakan. Dalam alam pikir Melayu lama, alam tidak boleh diperlakukan secara serakah. Ketika sekelompok masyarakat hendak merambah hutan untuk membuka tanah ulayat, memanen madu di pohon sialang yang rimbun, atau menolak bala di kampung yang dirundung wabah, Semah menjadi jembatan penghubung. Upacara ini digelar agar manusia terhindar dari keteguran—kondisi sakit akibat menyalahi aturan gaib - serta terbebas dari sapaan buruk mambang, peri, dan penunggu hutan.

Lanskap mistisisme ini mewujud kental dan spesifik ketika kita melayangkan pandang ke gugusan pulau seperti di Selatpanjang, Pulau Merbau, dan sekitarnya, yang hari ini berhimpun dalam jajaran administratif Kabupaten Kepulauan Meranti. Di wilayah pesisir yang dikepung selat dan dialiri arus pasang-surut yang deras ini, Semah bukan sekadar ritus musiman, melainkan urat nadi pertahanan hidup. Relasi spiritual ini terpelihara erat melalui interaksi intim antara masyarakat Melayu pesisir dengan komunitas adat Suku Akit, sebuah suku asli yang memegang teguh petuah resam leluhur dalam menjaga keseimbangan segara dan daratan.

Di Pulau Merbau dan kuala Selatpanjang, dikenal tradisi Semah Laut yang berkelindan erat dengan upacara Buang Ancak. Manakala laut dirasa "panas", ditandai dengan jaring nelayan yang koyak tanpa sebab, hantaman angin dan badai yang tak menentu, atau hasil tangkapan ikan dan udang yang merosot tajam, celakalah bagi kampung. Kondisi ini dipandang sebagai isyarat bahwa penguasa selat sedang murka. Ritus Semah pun segera disiapkan.

Prosesi magis ini dipimpin langsung oleh seorang Bathin atau Bomo Besar yang memiliki jinjang (pawang perantara). Puncak mistisisme dirayakan pada kegelapan malam subuh. Di atas geladak rakit kayu yang bergoyang dihantam ombak selat, sebuah ancak - wadah anyaman bambu berbentuk miniatur rumah atau perahu - sarat diisi persembahan. Di dalamnya diletakkan nasi kunyit, bertih padi, seulas sirih pinang, telur ayam kampung, hingga tetesan darah hewan kurban. Asap kemenyan dibakar pekat, membubung membelah sunyi kuala sembari tabuhan gendang dan gong bertalu-talu mengiringi silat magis yang berujung trance (kesurupan).

Sang Bomo kemudian berdiri tegak menantang angin laut, merentangkan tangan ke arah laut lepas Selat Malaka, lalu merapalkan mantra purba berciri Melayu arkais dengan nada mendayu yang menggetarkan bulu kuduk:

"Hai Datuk Laksamana Laut, Datuk Putih Penghulu Selat,
Si mambang air, si mambang arus yang memegang hulu-kuala...
Aku meminta tabik di ujung tanjung, membakar gaharu mengasap kemenyan.
Jangan engkau menyapa, jangan engkau menggalang, jangan pasang engkau keruhkan.
Sambutlah anca penawar lapar, penebus janji purba di lubuk terdalam.
Hanyutkan sial, datangkan tuah, jinakkan gelombang pembawa karam.
Lepaskan rezeki anak cucu kami, lalukan ikan mudik berbondong,
Sipela badai, siboi kore, pergilah engkau ke laut lepas, jangan mengusik batas kampung!"


Mantra panjang tersebut ditiupkan ke arah anca sebelum wadah sesaji itu dilarung ke pusaran lubuk laut terdalam. Tak berhenti di situ, di daratan Pulau Merbau, Semah mewujud dalam tradisi Bele Kampung (memelihara kampung). Setelah ritus usai, kampung akan dikunci dalam status Pantang Kampung selama tiga hari tiga malam. Warga dilarang menumpahkan darah ke tanah, dilarang memotong kayu, dan perahu asing diharamkan bersandar. Melanggar pantang ini dipercaya akan mendatangkan penyakit aneh binasa bagi seisi negeri.

Namun, seiring deru modernisasi dan derasnya arus pemahaman agama Islam yang kian menghunjam dalam urat nadi masyarakat Melayu Kepulauan Meranti, ritual Semah yang murni menggunakan persembahan makhluk halus ini telah banyak ditinggalkan oleh masyarakat umum. Sebagian besar komunitas menganggap praktik ini mendekati garis syirik. Kendati demikian, nilai luhurnya tidak hilang; Semah hari ini telah bermutasi menjadi Doa Selamat Laut atau Kenduri Tolak Bala. Fungsi Bomo digantikan oleh Imam Lebai, mantra kuno diganti zikir dan doa syariat, sedangkan sesaji diubah menjadi hidangan kenduri untuk disedekahkan dan dimakan bersama oleh seisi kampung di tepi dermaga.

Merekam ingatan tentang Semah di Kepulauan Meranti hari ini bukanlah upaya untuk menghidupkan kembali praktik animisme kuno. Langkah ini adalah ikhtiar penting untuk melestarikan khazanah berpikir nenek moyang tentang etika lingkungan. Melalui pemahaman terhadap Semah, generasi hari ini dapat memetik petuah berharga: bahwa alam semesta memiliki batas-batas sakral yang harus dihormati, dan manusia hanyalah menumpang hidup di bumi yang fana ini. Menjaga ingatan tentang Semah berarti merawat sepotong jati diri kebudayaan Melayu Riau agar tidak lapuk dihujan dan tidak lekang dikancing panas zaman. [Naz]