Portal Berita Online


Nyaris setiap Sabtu pagi-pagi sekali, takdir saya sudah digariskan dengan rapi: menjadi ajudan setia istri di Pasar Kodim, Pekanbaru. Tugasnya mulia sekaligus penuh tanggung jawab, yaitu memegang kantong belanja ukuran besar. Bagi sebagian pria, ini mungkin dianggap sebagai ujian kesabaran mingguan. Namun bagi saya, ini adalah kursi VIP baris terdepan untuk menonton pertunjukan teater kehidupan yang paling jujur.
Sebagai sesama pria, Anda mungkin tidak akan pernah percaya pada satu keajaiban domestik yang rutin terjadi di depan mata saya. Di tangan istri saya, selembar uang dua ribu perak memiliki daya beli yang setara dengan kekuatan magis. Uang sekecil itu—yang kalau tercecer di parkiran mal mungkin diabaikan orang—bisa dia konversikan menjadi beberapa batang daun seledri, beberapa helai daun bawang, plus sejumput bumbu dapur lengkap: sepotong kunyit, lengkuas, dan jahe.
Bagaimana kalkulasi ekonominya? Entahlah. Hukum penawaran dan permintaan Adam Smith langsung lumpuh di sini. Itu adalah misteri dunia persilatan emak-emak, sebuah ilmu warisan leluhur yang tidak akan pernah diajarkan di fakultas ekonomi mana pun. Pengamat ekonomi boleh sibuk menganalisis inflasi global, tetapi mereka harus sungkem pada kemampuan emak-emak yang mampu menjinakkan anggaran dapur dengan uang recehan.
Sementara istri saya sibuk melakukan ritual "sihir konversi" tersebut, fokus saya sebagai ajudan biasanya mulai buyar. Jiwa petualang saya meronta. Kaki saya diam-diam mengambil inisiatif untuk 'pindah jalur'. Saya melipir, memisahkan diri, menuju ke deretan kios kecil di sudut pasar yang menjajakan barang remeh-temeh.
Di sana, saya bisa terpaku lama seperti anak kecil di toko mainan. Saya mengagumi jajaran benda logam sederhana: pinset pencabut jenggot, ketokan kuku berbagai ukuran, pisau berbagai bentuk dan ukuran, hingga jajaran cangkul dan peralatan berkebun. Benda-benda ini jarang dipikirkan orang dalam kehidupan sehari-hari. Namun hebatnya, mereka selalu ada di sana, berdebu namun sabar menunggu takdirnya untuk dibeli. Ada romansa tersendiri melihat lapak kecil yang bertahan di tengah gempuran zaman modern ini. Dan satu persatu lapak-lapak itu mulai tutup, disapu oleh trend belanja online, yang murah dan kadang tak masuk akal.
Puncak dari petualangan Sabtu pagi ini adalah ritual wajib setelah semua kantong belanjaan terasa berat. Sembari menunggu istri menyelesaikan sisa daftar belanjanya, atau sekadar mengistirahatkan kaki yang mulai pegal, saya biasanya berlabuh di sebuah kedai sarapan sederhana di dalam pasar: Lontong Gulai Paku Etek Nur.
Bagi penikmat kuliner pasar, kuah gulai pakunya adalah puncak kenikmatan. Rasanya gurih, creamy, dan berlemak—jenis kelezatan tradisional yang tidak pernah pelit bumbu. Di kedai Etek Nur itulah saya duduk sembari menyeruput kopi panas, yang wanginya bikin ketagihan. Mengunyah perlahan sambil menikmati apa yang saya sebut sebagai: orkes kehidupan pasar yang mengalun begitu merakyat.
Coba Anda dengar bunyinya. Suara pisau daging yang berdentang memotong tulang, teriakan melengking para pedagang menawarkan sayur, tawa renyah emak-emak yang memenangkan negosiasi harga, hingga gemerincing uang receh yang jatuh ke dalam kaleng. Semua suara itu bersahutan tanpa dirigen. Tidak ada partitur musik di sini, tetapi nadanya mengalun begitu harmonis. Pasar tradisional adalah sebuah simfoni kehidupan yang jujur.
Namun, yang namanya simfoni tentu punya nada dinamis. Kadang-kadang, muncul juga nada tinggi yang melahirkan drama kecil bin menggelikan.
Pernah sekali waktu, saat istri saya sedang asyik memilah sayur di lantai bawah, saya kesasar naik tangga hingga ke lantai tiga. Ternyata, di sana adalah surga baju bekas alias pasar thrifting. Mata saya langsung berbinar melihat sepotong jaket lawas bermerek dengan gaya retro yang menurut selera maskulin saya sangat trendi. Tanpa pikir panjang, saya bayar, lalu turun dengan senyum bangga.
Hasilnya? Saya sukses besar diomeli istri sepanjang jalan pulang. Katanya, lemari pakaian di rumah sudah hampir roboh, buat apa pula menambah jaket bekas yang tidak jelas asal-usulnya. Saya hanya bisa terdiam, tersenyum kecut. Itulah seni unik dalam lingkaran rumah tangga; keputusan sepihak sering kali berujung pada likuidasi ketenangan.
Hari ini, anak-anak muda kelas menengah begitu bangga dengan kenyamanan algoritma belanja daring. Tinggal klik di layar gawai, barang impian langsung meluncur ke depan pintu rumah. Efisien dan praktis, memang. Tapi bagi saya, transaksi itu terasa sangat dingin, mekanis, dan sepi.
Aplikasi belanja daring tercanggih di dunia tidak akan pernah bisa mereplikasi keajaiban konversi uang dua ribu perak milik istri saya. Algoritma kecerdasan buatan tidak akan pernah bisa diajak berseloroh atau tertawa bersama tentang harga beras yang kian hari kian mencekik leher rakyat kecil. Di layar gawai, Anda adalah angka. Di pasar tradisional, Anda adalah manusia.
Kini, beberapa kantong plastik hitam di tangan saya sudah benar-benar penuh. Di dalamnya ada ikan, daging, cabai merah, sayur-mayur hasil konversi ajaib berbiaya murah, dan tentu saja, terselip sebuah ketokan kuku baru yang entah kapan akan dipakai. Isi dompet memang jelas menipis, tetapi entah mengapa, hati rasanya penuh dan hangat. Selamat hari Sabtu buat Anda semua. Mari sesekali matikan gawai, turun ke pasar, dan selamat menikmati simfoni kehidupan yang sejati. [naz]