SABTU, 13-6-2026


IRVAN NASIR
Pemerhati Sosial
Sirkus Standar Ganda FIFA: Ketika Kebijakan Imigrasi AS Mengebiri Sportivitas Piala Dunia

Sirkus Standar Ganda FIFA: Ketika Kebijakan Imigrasi AS Mengebiri Sportivitas Piala Dunia

Panggung Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi perayaan persatuan global melalui sepak bola, kini resmi berubah menjadi monumen kemunafikan terbesar abad ini. Kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang diskriminatif dan ugal-ugalan secara nyata telah mengintervensi integritas turnamen. Namun, yang jauh lebih menjijikkan dari sekadar arogansi geopolitik Washington adalah sikap FIFA. Badan pengatur sepak bola dunia ini mendadak ciut, kehilangan taringnya, dan memilih bersembunyi di balik tameng netralitas palsu yang memuakkan.


Rentetan peristiwa penolakan dan intimidasi di pintu perbatasan AS menunjukkan betapa turnamen ini telah dicoreng oleh sentimen politik. Delegasi resmi yang mengantongi dokumen valid diperlakukan bak ancaman keamanan. Omar Abdulkadir Artan, seorang wasit asal Somalia yang mencetak sejarah, justru dideportasi mentah-mentah oleh otoritas Customs and Border Protection (CBP) setibanya di bandara. Kasus ini membuktikan bahwa kompetensi dan profesionalisme di lapangan hijau tidak lagi berarti jika paspor Anda berasal dari negara yang tidak disukai oleh Gedung Putih.


Diskriminasi sistematis ini juga menghantam Tim Nasional Iran. Meskipun skuad inti akhirnya mendapatkan visa setelah ketidakpastian berbulan-bulan, AS secara sepihak menolak visa bagi belasan staf penting dan ofisial tim. Akibat sabotase administrasi ini, Iran terpaksa memindahkan basis pemusatan latihan mereka ke Tijuana, Meksiko. Tidak berhenti di situ, AS juga memangkas kuota tiket suporter Iran. Pola serupa menimpa bintang Irak, Aymen Hussein, yang ditahan dan diinterogasi secara agresif selama hampir tujuh jam di Chicago, sementara fotografer resmi mereka langsung dideportasi setelah ponselnya digeledah secara paksa.


Pun timnas Senegal mendapat perlakuan diskriminatif yang tak kalah sewenang-wenang.


Perlakuan rasial di luar nalar juga dilaporkan oleh pelatih legendaris Uzbekistan, Fabio Cannavaro. Skuadnya menjadi sasaran pemeriksaan intimidatif menggunakan anjing pelacak di hotel, sebuah prosedur berlebihan yang anehnya hanya menyasar delegasi dari Afrika dan Asia. Di saat yang sama, tim-tim Eropa melenggang bebas tanpa hambatan berarti. Kronisme dan favoritisme barat ini dipelihara dengan subur di bawah hidung kepemimpinan dunia.


Bagaimana respons FIFA terhadap pengacakan sportivitas ini? Melalui pernyataan resminya, mereka dengan sangat pengecut berdalih: "FIFA tidak terlibat dalam proses imigrasi negara tuan rumah, termasuk penilaian dan keputusan visa." Mereka bahkan dengan santai mengingatkan suporter bahwa kepemilikan tiket tidak menjamin hak masuk ke negara tujuan.


Pernyataan tersebut adalah sebuah omong kosong dan puncak hipokrasi tertinggi yang pernah dipertontonkan di dunia olahraga modern. Mari kita segarkan ingatan kolektif publik. Pada tahun 2023, ketika Indonesia menolak memberikan visa kepada tim nasional Israel karena memegang teguh prinsip konstitusi pada ajang Piala Dunia U-20, FIFA tidak berbicara tentang "menghormati hukum kedaulatan tuan rumah." Saat itu, FIFA mengamuk. Hak tuan rumah Indonesia dicabut dalam semalam dan turnamen dipindahkan ke Argentina. FIFA saat itu berlagak bak pahlawan moral yang mengutuk keras intervensi politik dalam olahraga.


Namun hari ini, ketika sang adidaya Amerika Serikat secara nyata merusak asas keadilan olahraga dengan menyaring peserta berdasarkan ras, paspor, dan sentimen politik, FIFA mendadak amnesia. Hukum dan regulasi FIFA ternyata bersifat elastis; tajam dan galak kepada negara berkembang, namun tumpul, merangkak, dan tunduk di hadapan kekuatan ekonomi barat.


Piala Dunia di bawah kepemimpinan Gianni Infantino telah bergeser dari festival olahraga menjadi sirkus kapitalisme murni. Aturan bisa dinegosiasikan asalkan nilai pasarnya cocok dengan sponsor. Kampanye retoris seperti "Fair Play" atau "Say No to Racism" kini tidak lebih dari sekadar jargon kosmetik yang murah dan usang. Ketika FIFA membiarkan negara tuan rumah menyaring peserta turnamen demi syahwat politiknya, maka pada saat itulah integritas sepak bola telah mati. Ini bukan lagi tentang olahraga, melainkan tentang kepatuhan buta terhadap sang penguasa pasar global. []