Portal Berita Online

PEKANBARU--Pertumbuhan ekonomi Kota Pekanbaru mencapai 7,39 persen. Angka tersebut menunjukkan aktivitas perekonomian di ibu kota Provinsi Riau masih bergerak di tengah berbagai dinamika ekonomi masyarakat.
Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan, pertumbuhan ekonomi merupakan gambaran aktivitas ekonomi secara keseluruhan dan tidak serta-merta mencerminkan kondisi ekonomi setiap warga.
“Memang ada yang susah, ada juga yang punya uang. Ada yang sukses di lapangan usaha tertentu. Namun, yang digambarkan adalah perputaran ekonominya,” ujar Agung.
Menurutnya, aktivitas ekonomi dapat ditopang sektor yang bersifat padat modal maupun padat karya. Pada sektor padat modal, nilai investasi yang dikeluarkan relatif besar, sementara jumlah tenaga kerja yang terlibat secara langsung cenderung lebih terbatas.
Ia mencontohkan pembangunan pabrik kelapa sawit (PKS) yang membutuhkan modal besar, tetapi jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung tidak sebanyak sektor padat karya.
“Sementara, padat karya melibatkan banyak orang dan didukung oleh berbagai faktor. Sehingga dampaknya dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” kata Agung.
Agung menyebut pembangunan dan perbaikan infrastruktur turut mendukung aktivitas ekonomi di Pekanbaru. Infrastruktur yang semakin baik dinilai dapat membuka akses ke kawasan yang sebelumnya relatif sepi dan mendorong aktivitas masyarakat.
Selain itu, kebijakan Pemerintah Kota Pekanbaru terkait pembayaran Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) bagi aparatur sipil negara (ASN) serta pemberian insentif bagi guru juga disebut turut memengaruhi perputaran ekonomi.
“TPP ASN Pemko Pekanbaru dibayarkan 14 bulan tepat waktu. Kami juga menambah insentif para guru dan memberikan baju gratis untuk anak-anak sekolah,” ujar Agung.
Menurutnya, kebijakan tersebut dapat membantu mengurangi sebagian beban pengeluaran masyarakat. Dengan kebutuhan tertentu yang telah mendapat dukungan pemerintah, pendapatan yang dimiliki masyarakat dapat digunakan untuk kebutuhan dan aktivitas ekonomi lainnya.
Agung menegaskan, angka pertumbuhan ekonomi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) merupakan gambaran aktivitas perekonomian secara keseluruhan di suatu daerah.
“BPS ini hanya memotret seperti apa pertumbuhan ekonomi di satu daerah. Datanya dikirim ke BPS pusat. Kemudian BPS pusat yang melakukan perumusan,” jelasnya.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi Pekanbaru tidak hanya berkaitan dengan aktivitas pemerintah, tetapi merupakan hasil pergerakan berbagai sektor, termasuk pelaku usaha dan masyarakat.
Ia menilai Pekanbaru memiliki aktivitas perdagangan dan jasa yang membuat masyarakat dari wilayah sekitar turut berbelanja dan melakukan kegiatan ekonomi di kota tersebut.
“Ini tidak hanya tentang pemerintah, tetapi digerakkan oleh seluruh sektor masyarakat yang ada di Kota Pekanbaru,” tuturnya.
Agung mencontohkan masyarakat yang memiliki usaha atau perkebunan di luar Pekanbaru tetap membelanjakan sebagian pendapatannya di kota tersebut.
“Orang yang punya kebun sawit di luar Pekanbaru, uangnya dibelanjakan di Pekanbaru. Karena jalan-jalan Pekanbaru bagus dan ada tempat-tempat yang enak dinikmati,” pungkasnya.[rr/pgi]