Portal Berita Online

Ia berdiri lantang di gedung parlemen, bersuara bagi Rempang. Dari Kampar ke Senayan, dari pesantren ke sidang paripurna, Syahrul Aidi membawa suara rakyat dan nilai-nilai Islam ke jantung kekuasaan.
Gedung DPR RI yang megah itu mendadak sunyi ketika Syahrul Aidi Maazat berdiri. Tangannya mengepal, suaranya meninggi, menyampaikan protes keras terhadap rencana penggusuran warga Pulau Rempang, Kepulauan Riau.
Ia bukan bicara atas nama fraksi semata, tapi atas nama nurani, agama, dan sejarah panjang tanah Melayu. “Bagaimana mungkin negara yang katanya beradab tega mencabut akar hidup rakyatnya demi investasi asing?” katanya lantang di Sidang Paripurna.
Syahrul Aidi tak menyebut angka investasi, tak bicara soal kawasan strategis nasional, apalagi keuntungan ekonomi. Ia bicara tentang rumah-rumah yang hendak diratakan, kuburan leluhur yang terancam hilang, dan air mata warga yang merasa dikorbankan oleh negara sendiri.
Suaranya adalah gema dari tanah Kampar, tempat ia lahir dan tumbuh. Dari sana, jejak hidupnya menanjak—melintasi dunia pesantren, universitas di Timur Tengah, dakwah, birokrasi, dan akhirnya parlemen. Semuanya disatukan oleh satu keyakinan: bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus digunakan untuk menolong yang lemah.
Anak Pesantren yang Merantau ke Al-Azhar
Syahrul Aidi lahir pada 21 September 1977 di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Ia menapaki jalan hidup sebagai santri sejak usia remaja, belajar di Pondok Pesantren Islamic Center Al Hidayah setelah lulus SD pada 1989.
Di pesantren itulah ia ditempa: bangun sebelum fajar, menghafal matan kitab, belajar fiqih, adab, dan bahasa Arab. Semangatnya menuntut ilmu membawanya terbang jauh ke Kairo, menempuh S1 di Universitas Al-Azhar, jurusan Islamic and Arabic Studies, lulus pada 2000.
Selepas itu, ia melanjutkan ke Universitas Al-Bayt di Yordania, jurusan fiqih. Ia tamat tahun 2005, lalu kembali ke tanah air sebagai intelektual muda dengan gelar master dan wawasan Islam yang mendalam. Tak puas dengan itu, ia menyelesaikan program doktoral di UIN Sultan Syarif Qasim Pekanbaru pada 2021 dalam bidang hukum Islam.
Ia mengajar sebagai dosen, berdakwah di berbagai majelis, dan menulis. Tapi jalan hidupnya pelan-pelan bergerak ke dunia organisasi, lalu politik. Bukan karena ambisi kekuasaan, katanya, tapi karena ingin memberi pengaruh yang lebih nyata bagi umat.
Dari Masjid ke Kantor Dewan
Sebelum dikenal sebagai anggota DPR RI, Syahrul lebih dulu malang melintang di Kabupaten Kampar.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua Baznas kabupaten Kampar, Bendahara MUI, anggota FKUB, serta Ketua Ikatan Keluarga Mubaligh Indonesia (IKMI). Di kalangan ulama lokal, ia dikenal sebagai jembatan antara ilmu dan kebijakan. “Kita tak bisa hanya berdakwah dari mimbar, kita harus masuk ke sistem,” ucapnya suatu kali.
Langkah politiknya dimulai tahun 2004, ketika terpilih sebagai anggota DPRD Kampar periode 2009-2014 dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), lalu terpilih lagi untuk periode kedua 2014-2019 dan menduduki jabatan Wakil Ketua DPRD. Tahun 2019, ia melompat ke Senayan sebagai anggota DPR RI, dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029.
Di parlemen, ia aktif membidangi urusan pembangunan infrastruktur dan daerah tertinggal, tetapi dikenal luas karena keberanian dan ketegasannya dalam isu-isu keadilan sosial. Dalam catatan media ini, tak kurang dari 10 kali Syahrul Aidi melakukan interupsi di sidang paripurna yang membuat wajahnya yang tampan ditatap oleh jutaan pemirsa televisi diseluruh penjuru negeri.
Rempang: Momentum Nurani
Isu Pulau Rempang menjadi titik balik penting dalam peran politiknya. Ketika sebagian besar elite memilih diam atau mengedepankan pendekatan teknokratik, Syahrul tampil sebagai pembela rakyat.
Ia mengutip ayat-ayat Alquran, menyitir sejarah Melayu, dan menyerukan perlindungan terhadap hak-hak warga adat yang tinggal turun-temurun di tanah itu. Baginya, tidak semua yang “strategis” secara ekonomi sah secara moral.
“Jika negara hanya bicara investasi tanpa bicara hati nurani, lalu di mana letak nilai kemanusiaan dan keislaman kita?” tanyanya dalam pidato yang viral di media sosial.
Syahrul bukan menolak pembangunan. Ia mendukung kemajuan, tapi menolak perampasan. Ia percaya bahwa pembangunan harus berlandaskan nilai, bukan sekadar angka.
Membawa Warisan Ulama dalam Politik
Gaya Syahrul Aidi dalam politik tak bisa dilepaskan dari latar belakang pesantren. Ia bukan politisi flamboyan. Gaya bicaranya santun namun tegas, kadang puitis, kadang menggelegar.
Dalam pidato-pidatonya, sering muncul kutipan Imam Syafi’i, Buya Hamka, hingga Syekh Abdul Wahab Rokan. Ia membawa jejak ulama ke parlemen, dan menjadikan Islam bukan sebagai slogan, tetapi landasan etika berpolitik.
Di PKS, ia termasuk kader ideologis yang konsisten, tetapi tetap lentur dalam bergaul lintas fraksi. Ia tidak terlalu sering tampil di media nasional, tetapi di daerah pemilihannya—Riau—ia disebut-sebut sebagai wakil rakyat yang “rajin turun ke lapangan dan tidak melupakan rakyat.”
Salah satu yang membuat dirinya dekat di hati masyarakat pemilihnya adalah mudah dihubungi melalui saluran komunikasi handphone. Dia tidak memilih nomor siapa yang harus diangkat ketika handphonenya berdering. Bahkan secara lebih nyata, Syahrul Aidi menyediakan rumahnya di Jakarta dijadikan rumah singgah bagi warga masyarakat Riau yang ada keperluan berobat di ibukota negara.
Mewarisi Tradisi, Melawan Lupa
Sebagian kalangan menyebut Syahrul Aidi sebagai salah satu figur langka dalam politik nasional: agamawan yang tak terjebak romantisme, politisi yang tak kehilangan moral, dan intelektual yang tak lupa akar budaya.
Ia tak banyak berteriak soal nasionalisme, tapi tindakan dan sikapnya justru menjadi manifestasi dari cinta tanah air yang otentik—dalam wujud membela tanah rakyat, menjaga marwah Melayu, dan merawat warisan leluhur.
Dalam bayang-bayang konflik agraria, krisis identitas budaya, dan politik yang makin transaksional, kehadiran sosok seperti Syahrul Aidi menjadi oasis.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bisa dijalani dengan amanah, dan bahwa suara dari kampung bisa menggema hingga ke pusat kekuasaan—asal yang menyuarakannya tak kehilangan keberanian dan kejujuran.
Waktu akan menguji keaslian niat dan keberanian Syahrul Aidi. Tapi setidaknya hari ini, ketika banyak yang memilih diam, ia memilih bersuara.
Ketika banyak yang berdiri demi kekuasaan, ia berdiri demi rakyat. Dan di tengah gemuruh politik, namanya mengendap sebagai satu suara nurani dari Senayan untuk tanah Rempang. *