Mahasiswa FBN Edukasi Siswa SDN 044 Kulim Lawan Tiga Dosa Besar Pendidikan


Jumat, 17-7-2026


Mahasiswa FBN Edukasi Siswa SDN 044 Kulim Lawan Tiga Dosa Besar Pendidikan

PEKANBARU--Sebagai upaya mencegah perundungan sejak dini, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) program FISIP Berdampak Untuk Negeri (FBN) Kecamatan Kulim menggelar sosialisasi bertema Tiga Dosa Besar Pendidikan di SD Negeri 044 Kecamatan Kulim, Kota Pekanbaru.


Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu hingga Kamis (15-16/7/2026), menyasar para siswa sekolah dasar dengan materi mengenai pencegahan perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.


Ketua FBN Kecamatan Kulim, Fiqih Saddam Pelman, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menciptakan ruang belajar yang aman bagi siswa agar mampu mengenali berbagai bentuk tindakan yang termasuk dalam tiga dosa besar pendidikan.


Ia berharap melalui sosialisasi tersebut, para siswa dapat memahami pentingnya menjaga sikap saling menghargai serta berani melaporkan apabila menemukan tindakan perundungan, intoleransi, maupun kekerasan seksual di lingkungan sekolah.


Kepala SDN 044 Kulim, Hardati, mengapresiasi kegiatan yang digelar mahasiswa FBN. Ia berharap siswa yang mengikuti sosialisasi dapat menjadi penggerak dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.


Hardati juga mengingatkan para siswa agar segera melapor kepada wali kelas apabila mengalami atau melihat adanya tindakan yang termasuk dalam tiga dosa besar pendidikan. Laporan tersebut nantinya dapat ditindaklanjuti oleh Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK).


Menurutnya, kegiatan sosialisasi seperti ini dapat membantu siswa lebih terbuka serta memiliki keberanian untuk menyampaikan permasalahan yang mereka alami.


Kegiatan diawali dengan penyerahan sertifikat apresiasi kepada pihak sekolah, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai perundungan dan intoleransi.


Pemateri pertama, Meizyva Elvi, mengajak para siswa memahami perbedaan antara candaan dan tindakan perundungan dalam hubungan pertemanan. Ia menjelaskan bahwa perundungan dapat berupa ejekan, pengucilan, hingga tindakan fisik seperti memukul.


Ia mengingatkan pentingnya menghargai perasaan orang lain dalam berinteraksi.


"Kalau bermain dengan teman, jangan saling mengejek. Kita tidak tahu apakah teman kita merasa nyaman atau tidak," pesan Meizyva.


Pada hari kedua, materi dilanjutkan dengan pembahasan mengenai kekerasan seksual yang disampaikan Nadya Ulya. Para siswa diberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga diri dan berani berkata tidak apabila mengalami tindakan yang tidak pantas, baik di sekolah maupun di rumah.


Nadya menjelaskan bahwa terdapat beberapa bagian tubuh yang tidak boleh disentuh oleh orang lain tanpa izin, termasuk area pribadi seperti mulut, dada, organ reproduksi, dan bokong.


"Kalau ada yang berani menyentuh, teman-teman harus berani melawan. Katakan tidak dan segera menjauh," ujar Nadya.


Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan forum diskusi kelompok. Para siswa dibagi dalam kelompok belajar untuk membahas pengalaman terkait perundungan, memberikan tanggapan, serta menyelesaikan sejumlah studi kasus yang diberikan.


Lurah Kulim, Agustina, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia memberikan pesan kepada para siswa agar membangun hubungan pertemanan yang positif dan saling menjaga satu sama lain.


Melalui kegiatan ini, mahasiswa FBN berharap para siswa memiliki pemahaman lebih baik mengenai tiga dosa besar pendidikan serta mampu ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.[rr/rls]

Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT